| |
Renungan Singkat
MEMIKUL BEBAN BERSAMA ALLAH
Matius 11
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih
lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (ayat 28)
Beberapa
tahun yang lalu, koran harian The Wall Street Journal
memuat cerita tentang seorang anak perempuan kecil
bernama Sally yang sangat hati-hati dan idealis. Suatu
saat sewaktu musim gugur ketika daun-daun masih ada
dipohon, badai salju yang aneh dan luarbiasa menghimpas
kota dimana dia tinggal. Kakek Sally kemudian
mengajaknya berkeliling sebentar dengan mobil dan
berkata: “Coba perhatikan pohon-pohon Palem itu.
Sebegitu banyaknya & parahnya batang yang sudah patah
sehingga pohon-pohon itu bisa mati. Tetapi, coba
perhatikan juga pohon-pohon Pinus dan pepohonan hijau
disebelahnya. Mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh
badai yang kuat ini. Anakku, ada 2 macam pohon di dunia
ini, yang bodoh dan yang pandai. Pohon Palem memang
kekar batangnya dan dia menguatkan diri ketika dihantam
badai. Namun pada akhirnya ketika dia mulai tua dan
lelah, dimana batang-batang kecil, dahan dan daunnya
banyak, pohon ini tidak bisa bertahan dan akhirnya akan
patah. Sebaliknya, pohon Pinus dan pepohonan hijau
ketika semakin tua dan rimbun, dia semakin menurunkan
batangnya dan membiarkan berat dari daun-daun itu turun
kebawah. Oleh karena itu, jenis pepohonan ini tidak
terancam oleh badai yang mengamuk sekalipun. Cucuku,
jadilah pohon Pinus.” (Bible Illustrator for Window,
Parsons Technology, index 3363)
Saudara / i yang terkasih didalam Yesus Kristus, kita
diingatkan oleh cerita diatas bahwa sesungguhnya Tuhan
mau berjalan bersama dengan kita didalam kehidupan
sehari-hari. Dan apabila ini kita lakukan, maka kita
sesungguhnya mampu menghadapi badai kehidupan sedasyat
apapun juga. Dia yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha
Kasih akan memberi kita petunjuk, membimbing dan
menguatkan kita selalu. Masalahnya, kita sering kali
dibutakan oleh diri kita sendiri (ego, kepandaian,
kekayaan dan lain-lain) sehingga kita lebih memilih
untuk berdiri sendiri. Kita seolah-olah ingin
membuktikan kepada Allah, orang lain dan diri sendiri
bahwa kita mampu untuk melakukan hal yang kita inginkan
tanpa pertolongan siapapun. Faktanya, apakah benar kita
mampu berdiri sendiri dan hidup tanpa interaksi dari
orang lain?
Faktanya adalah tanpa pertolongan Tuhan dan kasih
sayangNya yang diberikan secara langsung dan ajaib (seperti
mujizat, udara segar, sinar matahari dan lain-lain) dan
yang tidak langsung lewat peristiwa tertentu dan orang
lain, kita pasti tidak ada didunia ini. Kalau kita sudah
menyadari hal ini, bukankah indah kalau kita kemudian
berjalan dengan Tuhan Allah setiap hari dimana Dia ikut
mengerti dan menanggung beban kita? Bukankah indah juga
apabila kita bisa membantu meringankan dan memikul beban
sesama kita yang membutuhkan? Lihatlah disekeliling kita:
apakah ada sanak saudara, teman bahkan orang asing yang
membutuhkan penguatan kita bersama Allah? Apakah kita
akan membiarkan mereka patah dan akhirnya mati ketika
dihantam badai? Ataukah kita dengan kebijaksanaan,
kekuatan dan kasih yang Tuhan telah berikan akan
menolong mereka? Selamat melayani. Amin
(Wempy)
Kita tidak harus melepaskan dari diri kita segala
pemikiran, kepintaraan, pengetahuan, kemampuan untuk
menghakimi, ataupun emosi, kesenangan, keinginan, naluri,
aspirasi sadar dan tidak sadar. Tetapi sebaliknya, kita
meletakkan dan melakukan semua ini didalam Tuhan
sehingga Dia bisa menuntun, menstimulasi, menumbuhkan,
mengembangkan dan menggunakan demi tujuanNya yang indah.
(Paul Tournier (1898–1986)) |
|